• Menelusuri jejak Menguak Rahasia Mutiara Pulau Wawonii

    Rona senja yang merarak langit di ufuk barat, ketika itu bola matahari yang terlihat sangat jelas. sinar yang semakin redup berwarna maron, hendak berjalan semu perlahan masuk kedalam peraduannya.

  • Dermaga Cinta

    Ku mulai jalan ini mengayuh biduk bersama cahaya rembulan di tengah purnama, walau diantara buih meniti samudera dengan semangat yang melambung jauh untuk menggapai harapan, alangkah kerinduan dengan jiwa yang menepi laut tak kuasa untuk melangkah sampai tujuan.

  • SEKAPUR SIRIH ( PESAN PERKAWINAN )

    Karena takdir sesuatu yang pasti akan terjadi Allah peruntukkan, entah kapan, dimana dan kepada siapa “ Jodoh “ itu Tuhan tunjukkan adalah sungguh menjadi rahasianya, namun itu pasti terjadi “

  • TAPUNO MASEKENO

    Toponimi sebuah tempat atau daerah selalu mendasarkan pada inspirasi atau fenomena dari kejadian atau peristiwa yang ada didaerah tersebut untuk menjadi nama atau penyebutan sebuah daerah lazim menjadi tempat atau daerah penghunian.

  • Membangun Pariwisata Konawe Kepulauan Berbasis Budaya

    Salah satu potensi yang sangat menjanjikan dalam rangka upaya menggali sumber-sumber pembiayaan pembangunan daerah di Kabupaten Konawe Kepulauan adalah sektor pariwisata.

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

LUPA



L  U  P  A
Oleh : Arief Gazali Sidek


Mengapa manusia lupa pada kejadian
Mengapa kita lupa pada esistensi hidup kita
Mengapa kita lupa pada perjalanan panjang yang kita hadapi dan
 mengapa kita lupa pada alam sempit tempat kita berasal

Manusia LUPA bahwa dia datang tanpa apa-apa
LUPA bahwa dia dihidupkan untuk memegang amanah
DIA LUPA  bahwan dia hidup untuk memberi hidup pada orang lain
Dan DIA LUPA kalau hidupnya hanya diberi sesaat lalu dimatikan kembali

Tapi mengapa manusia sombong, latah dan angkuh
Mengapa manusia egois dan serakah
Mengapa manusia tak peduli dan menghardik anak yatim
Karena manusia LUPA bahwa dia diberi Tanggung Jawab dan Amanah
Dia harus memberi kebahagiaan pada sesamanya

Banyak diantara manusia yang menderita dan sengsara
Hidup dari alas dedaunan kering
Tinggal digubuk dengan atap gardus yang sekedar menutupi matahari
Walau ketika hujan ia harus basah kuyup kedinginan

Mereka itu tanggung jawab siapa
Mereka adalah titipan amanah yang harus diangkat
Tapi lag-lagi manusia LUPA pada amanah yang diembannya
Manusia lupa pada asal kejadian dirinya yang tanpa apa-apa
Manusia memang murka,
Allah laknat pada manusia biadab tak bermoral

Allah memberi kekuasaan dan uang
Allah memberi harta berlimpah
Allah memberi ilmu pengetahuan
Allah memberi iman dan kesadaran
Agar manusia lebih bijak, lebih faham dan lebih arif
Bahwa sesungguhnya ia juga memiliki kasih sayang dan cinta
Ia harus mencintai sesamanya
Ia harus melindungi sesamanya dari kelemahan
Maka seyogyanya ia tidak LUPA pada hakikat kejadiannya sendiri

Maha suci Allah yang telah menjadikan sesuatu
Dan dia adalah hakikatnya
Dia menciptakan manusia untuk cinta sesamanya
untuk memberi perlindungan dan kekuatan sesamanya
dan memberi hidup dan penghidupan sesamanya
Share:

KEHILANGAN JATIDIRI



KEHILANGAN JATIDIRI
Oleh  : Arief Gazali Sidek

Angin berhembus dipagi yang cerah,
 awan mendung kelabu isyarat akan datangnya hujan.
 Segenap dari muka angkasa tertutupi,
oleh hitam pekat warna langit yang menghalangi pandangan
 seakan memberi sinyal akan datangnya musibah besar.

Halilintar menyemburkan cahaya meliputi alam
dan petir bergemuruh tiada henti
menyambar  bumi dengan suara dentuman keras,
 hingga manusia memeras nalar
berfikir tentang apa yang sedang terjadi

 Sebuah fenomena alam raya yang Tuhan perlihatkan,
fakta empiris yang Tuhan tunjukkan
 terhadap gejala peristiwa alam yang terjadi.
Apakah ini sebuah tanda-tanda kiamat
 yang sedang terjadi dialam ini?

Manusia panik, galau dan cemas,
 entah kemana harus berjalan mencari perlindungan.
 Semua tak peduli,
masing-masing hanya bisa mengurusi dirinya sendiri.
 Anak, saudara dan keluarga serta handai tolan
 tak ada lagi dipikiran mereka
termasuk kekayaan dan harta benda yang melimpahpun ditinggalkan.
 Semua luput dan tak ada lagi di ingatan kita
 Semua telah kehilangan Jatidiri !

Mestinya manusia tenang, tegar dan kuat menghadapinya
Karena Allah menaruh akal, hati dan jiwa
 pada tubuh yang sempurna
Allah meletakan RUH dan NYAWA pada DIRI yang Utuh
Allah menyimpan AMANAH pada Raga yang lengkap
Allah memberi sinar dan cahaya IMAN dalam QALBU yang suci
Mengapa harus kehilangan Jatidiri

Seyogyanya kita ikhlas dan berdoa
Allah Maha Tahu akan ketetapan yang dibuatnya
Saat mana manusia harus diuji
Manusia harus mampu tegak dengan titipan amanah
Dengan JATIDIRI yang sempurna
Share:

Sebuah Ujian Ketabahan



SEBUAH UJIAN KETABAHAN
Oleh  :  Arief Gazali Sidek

Kesenangan, kegembiraan, kesedihan dan bahkan penderitaan
adalah kodrat yang sudah Allah tentukan
sebagai bahagian dari persoalan hidup manusia
dan bahkan jauh sebelum manusia ada dan diciptakan
Allah pun telah menetapkannya di  sebuah  alam IDEA,
alam dimana manusia dapat berimajinasi,
berinspirasi pada sebuah dimensi cita cita yang tinggi
dalam pandangan hakiki yang menjadi rahasia allah.

Dan bahwa manusia dengan segala kehendak hatinya
Allah telah tetapkan pula
garis  batas kebajikan dalam sebuah  ketentuan azali bagi hambanya.
Tentang  sesuatu dimana manusia harus berada dan beraktifitas hidup
bukanlah sebuah  kehendak yang mandiri bagi dirinya
untuk  menentukan hidup semaunya,
karena ternyata diatas singgasana arasy yang tinggi
Allah menetapkan TAKDIR ke maha kuasaan nya
dalam mengatur alam ini seluruhnya
termasuk  gerak hidup bagi manusia diatas bumi ini.

Sebagai hamba yang taat dan patuh pada penciptaan,
tentu  harus  menyadari  bahwa
 kondisi aktifitas hidup yang  Tuhan  telah tetapkan,
termasuk ketentuan untuk harus berpisah dengan ISTRI TERCINTA
serta ANAK ANAK TERSAYANG walau hanya sementara,
adalah sebuah konsekuensi hidup dari ketetapan  azali Tuhan
untuk memberi  UJIAN KETABAHAN
TERHADAP HAMBANYA – HAMBANYA YANG BERIMAN.

Demikian simpul simpul fakta yang telah menggugah jiwa dan fikiran,
ketika kita diperhadapkan pada situasi pilihan
yang dua duanya sangat sulit untuk menentukannya,
antara pengabdian pada daerah
dan mengubah karir agar lebih berkembang disatu sisi
dan meninggalkan seyum bahagia bersama anak istri yang dicintai,
ketenangan hidup dalam istana damai di rumah sendiri tanpa kegaduhan
di sisi yang lainnya


Alhasil apa yang sesungguhnya dicapai
dalam suasana gelak tawa kegembiraan diseberang sana,
hanyalah rintihan terhadap penyesalan
yang tiap harinya datang ibarat badai menerpa tanpa ragu.

Telah berbulan bulan perasaan ini teralami,
 hidup ibarat anak kost yang ketika pulang kerja
walau merasa lelah dan  capek harus berurusan dengan dapur.
 Perut melilit lapar tanpa istri yang harus menghidangkan makanan,
dengan terpaksa harus pula mengayak tapis
hingga beras kelihatan memutih tanpa gabah.

Oleh DINGINNYA MALAM
 ketika angin basah sedang berhembus
 merasuk pada lapis lapis kulit yang menembus daging,
 tanpa terasa badan merebah lunglai memeluk guling 
 saat akan tidur tanpa ada isteri yang menghangatkan badan.

 Suasana yang kurang lebih sama pun terjadi disana,
sang istri dan anak anak tercinta telah menunggu lama
 dibatas penantian sang waktu,
walau dengan mata yang berkaca kaca hendak mengeluarkan air mata
 karena rasa haru, rindu dan khawatir.

 Adakah lentera yang menjanjikan cahaya
 untuk menerangi hidup ditengah kegelapan ?
Adakah kebahagiaan yang kita persembahkan pada anak dan istri
 ketika kembali bersama mereka ?
Jawabannya adalah KITA TUNGGU APA KATA NANTI.

 Semua butuh kesabaran,
semua butuh ketabahan dan semua butuh waktu dan kepastian.
 Walau kita terus menggalakkan semangat yang berapi api,
 dengan raga yang terus meneteskan keringat membasahi segenap tubuh,
namun perasaan rindu ingin bersama sama
dalam bekapan keluarga sangat kita harapkan bersama.

Walaupun kita berusaha menutupi segala kekecewaan
dengan mengubah watak dan live style
tapi pada raut wajah tetap terbaca
 oleh air muka yang sedang mengalami kesedihan.


Sebuah situasi yang membuat kita gerah
adalah ketika anak anak lagi kondisi sakit
 dan kita berusaha kembali menjenguk mereka tanpa apa apa,
lalu menyeberang dengan suasana musim yang lagi tidak bersahabat,
ombak mengayun kapal tanpa henti,
 fikiran geram menakutkan hingga akhirnya khayalan
 selalu saja focus mengingatkan rindu
 pada belahan jiwa yang ditinggalkan
 dengan buah hati tanpa damai.

Sungguh benar benar dilematis,
situasi yang hendak membuat kita berfikir pada dua pilihan,
antara mengemban tugas dan tanggung jawab sebagai abdi Negara
dan urusan keluarga yang harus menjadi perhatian
 karena sebuah tanggung jawab moril yang tidak bisa terelakan.

Akankah semua ini berakhir !
Adakah sebuah penantian akhir
 dari situasi yang kerap membelenggu jiwa.
 Kapankah masa itu tiba dan mengakhiri
seluruh ragam bayang bayang  dan khayal yang tak pasti.

Kita terlalu lama mengharap sebuah keberuntungan
 akan datang menggelar bunga bunga bahagia,
sembari berkedok kepatuhan yang membuat hari hari esok akan cerah,
 namun kita harus sadar bahwa
kemenangan yang indah itu adalah kesuksesan yang dicapai
lewat api api kejuangan tanpa batas,
bukan justru menyantap hidangan yang telah tersedia
diatas meja tanpa bertanya.
Lewat pintu pintu keikhlasan yang Allah peruntukan
 bagi orang orang yang sabar
 SEBUAH ANUGERAH BESAR akan Allah “ AMANAHKAN “
kepada sosok yang akan mampu menerimanya
 dalam dua tangan dan satu jiwa dalam penghambaannya.


Langara, 26 Maret  2016


WAWONII BERSINAR


Share:

Recent Posts

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *