• Menelusuri jejak Menguak Rahasia Mutiara Pulau Wawonii

    Rona senja yang merarak langit di ufuk barat, ketika itu bola matahari yang terlihat sangat jelas. sinar yang semakin redup berwarna maron, hendak berjalan semu perlahan masuk kedalam peraduannya.

  • Dermaga Cinta

    Ku mulai jalan ini mengayuh biduk bersama cahaya rembulan di tengah purnama, walau diantara buih meniti samudera dengan semangat yang melambung jauh untuk menggapai harapan, alangkah kerinduan dengan jiwa yang menepi laut tak kuasa untuk melangkah sampai tujuan.

  • SEKAPUR SIRIH ( PESAN PERKAWINAN )

    Karena takdir sesuatu yang pasti akan terjadi Allah peruntukkan, entah kapan, dimana dan kepada siapa “ Jodoh “ itu Tuhan tunjukkan adalah sungguh menjadi rahasianya, namun itu pasti terjadi “

  • TAPUNO MASEKENO

    Toponimi sebuah tempat atau daerah selalu mendasarkan pada inspirasi atau fenomena dari kejadian atau peristiwa yang ada didaerah tersebut untuk menjadi nama atau penyebutan sebuah daerah lazim menjadi tempat atau daerah penghunian.

  • Membangun Pariwisata Konawe Kepulauan Berbasis Budaya

    Salah satu potensi yang sangat menjanjikan dalam rangka upaya menggali sumber-sumber pembiayaan pembangunan daerah di Kabupaten Konawe Kepulauan adalah sektor pariwisata.

Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Simbol Pemuliaan & Persamaan Martabat Manusia Dalam Peradaban Universal

TAATA & TIITI

SIMBOL PEMULIAAN & PERSAMAAN MARTABAT MANUSIADALAM PERADABAN UNIVERSAL


Filsafat sosial
Manusia hidup memiliki dua sifat dasar yakni

Pertama ; “ Arasi “ ( tamak ), keinginanan untuk menguasai sesuatu

secara berlebihan untuk kepentingannya sendiri

baik itu harta, tahta maupun wanita.

Sehingga tidak jarang kita jumpai seseorang selalu menimbun harta

atau kekayaan untuk bersenang-senang dalam hidupnya.

Sementara ia tidak pernah berfikir kalau hidup ini adalah tanggung jawab,

hidup adalah memberi

dan hidup adalah manfaat bagi kehidupan orang lain.

Orang selalu beranggapan bahwa

hidup adalah tanggung jawab dari masing-masing orang,

hidup juga merupakan resiko yang harus ditanggung sendiri secara individual.

Beberapa ideologi besar dunia

telah mengkooptasi arus pemikiran manusia pada dua arah.

Pertama faham Liberalisme Amerika

yang mengkultuskan kapitalisme sebagai satu-satunya ideologi

yang akan membawa kesejahteraan manusia.

Kedua faham sosialisme Rusia

yang menasbihkan kepentingan sosial atau masyarakat

merupakan tanggung jawab negara,

sehingga negara menjamin hak-hak setiap warga negaranya

untuk hidup layak, tenteram, damai dan sejahtera.

Sifat dasar manusia yang kedua adalah “Kokolaro “ ( kasih sayang atau Cinta ).

Bahwa manusia dalam membentuk komunitas

selalu di dasari dengan rasa sayang atau cinta.

Karena cinta merupakan dasar untuk membentuk jalinan hidup,

membentuk ikatan kebersamaan dalam keluarga hingga melahirkan generasi ,

yang akan melanjutkan estafet kehidupan selanjutnya

sampai dunia mengalami kehancuran atau kiamat.

Dari kedua sifat dasar manusia tersebut

dapat memberi ruh, semangat, gairah serta motivasi

untuk bekerja lebih giat, berprestasi dan pada akhirnya mendapat penghargaan

serta prestise yang tinggi.

Dengan sifat tamak manusia bekerja tanpa ampun untuk menguasai dunia

dengan pernak pernik kemewahannya.

Dia bisa memiliki harta dan kekayaan materil yang berlimpah,

dia bisa mempunyai kekuasaan untuk mengendalikan keadaan

termasuk negara dengan tujuan membumikan pengaruh yang besar

agar kekuasaan sendi-sendi ekonomi dan keuangan bisa mengalir deras

dan termasuk dia bisa memiliki wanita cantik

untuk menjadi dayang-dayang dan pemuas hawa nafsunya.

Namun dengan sifat kasih sayang atau cinta

manusia dapat memberi nafas keharmonisan keluarga

atau komunitas yang kian kompeleks.

Dalam banyak hal tentu diperlukan pranata sosial,

tata nilai, adat istiadat, norma dan agama

untuk memberi jaminan keberlangsungan hidup

secara harmonis dan dinamis.

Dari dua sifat dasar tersebut pula dapat mempengaruhi alam fikiran manusia

untuk melakukan kreatifitas berfikir,

bersikap dan bertindak

dalam alam kehidupan nyata yang disebut kebudayaan.

Dinamika perkembangan hidup manusia

dapat ditandai dengan pergeseran tata nilai kehidupan,

karena dalam banyak hal

manusia akan selalu mengikuti kecenderungan zaman

yang selalu berubah.

Pranata dan pratata sosial yang tumbuh tidak dapat mengatasi

lajunya hegemoni arus global yang merambah dunia,

termasuk andil pergeseran nilai-nilai peradaban materil

pada setiap komunitas

dan suku bangsa yang ada di alam ini.

Berangkat dari studi kasus global yang terjadi

dan merasuk sendi-sendi budaya dan peradaban,

maka seyogyanya kita mesti waspada dan berusaha membangun

pilar-pilar penyangga ketahanan budaya dan peradaban

melalui pengejawantahan tata nilai sosial, adat istiadat, norma serta agama.

Dan salah satu sistem nilai yang tumbuh dan berakar lama

pada masyarakat Wawonii adalah

ungkapan atau sapaan pengkultusan manusia secara universal tanpa pembedaan

yakni TAATA dan TIITI.

Dalam filsafat sosial manusia adalah

saudara bagi yang lainnya tanpa perbedaan,

manusia adalah tanggung jawab hidup bagi manusia lainnya.

Sehingga dibutuhkan kebersamaan prinsip,

persatuan dengan loyalitas dan integritas yang tinggi

serta persaudaraan dan kesetia kawanan dalam kehidupan yang indah.

Dengan prinsip-prinsip sosial

yang telah menjadi bagian substansi ajaran moral masyarakat Wawonii,

TAATA dan TIITI telah menjadi filosofi dasar pembangunan moral

yang mengandung esensi ajaran

tata nilai manusia secara komperhensip dan paripurna.

Manusia pada pandangan ini berada pada satu titik tumpu yang sama,

kemudian berangkat pada median yang sama

dan selanjutnya dapat mencapai puncak yang sama.

TAATA dan TIITI

adalah ajaran pemuliaan manusia tanpa mengenal batas,

ia dapat berlaku universal tanpa pembedaan.

Ungkapan atau sapaan ini dapat berlaku umum

baik ia sebagai Penguasa, orang terpandang, rakyat jelata

maupun pada orang tua, remaja, anak-anak dan balita.

Sehingga pesan moral yang dikandung dalam ajaran ini

adalah pembangunan manusia pada tiga esensi hidup atau nucleus life

yakni : Persamaan, Persatuan dan Persaudaraan.

TAATA dan TIITI

adalah simbol identitas dan martabat kemanusiaan yang bernilai semesta,

tanpa memandang sekat-sekat pembedaan perlakuan,

sikap dan tindakan,

TAATA dan TIITI hadir sebagai fakta sosial

yang menunjukan bahwa

ada sebuah sistem nilai peradaban

yang tidak lekang oleh zaman

dan tidak lapuk oleh perubahan masa.

Dan terhadap hegemoni dua arus besar ideologi dunia

Kapitalisme dan Sosialisme

tidak menjadi ancaman berbahaya

bagi kulturalisme sosial masyarakat wawonii,

karena itu TAATA dan TIITI

adalah akulturasi jawaban kemapanan budaya

dengan akar-akar peradaban masyarakat wawonii yang kuat dan kokoh.

Langara, 13 Februari 2016

Penulis

WAWONII BERSINAR


Share:

Rekonstruksi Pemikiran Agamis

REKONSTRUKSI PEMIKIRAN AGAMIS
Karya : Arief Gazali Sidek

Dunia dengan gemerlap bintang
Warna – warni Hegemoni perubahan arus zaman
Mencabik-cabik generasi dengan moralitas dunia baru
Kapitalisme liberal, Demokratisasi dan Modernisasi yang beragam
Di seantero bumi, dunia yang melahap paham materialisme global

Ketika mata terbelalak
Membuka realitas pandangan dari glamor kebebasan
Jiwa yang seakan disandera
Hati menjerit oleh pelapukan moralitas tanpa batas
Sikap yang kelam tanpa cahaya keimanan, tanpa etika

Menggulir hawa nafsu tanpa keadaban
Kita perlu membangun kembali spritualitas Agama
Pesan-pesan moral, SPECTRUM dunia pencerahan hakiki
Rekonstruksi pemikiran-pemikiran agamis

Dalam tatanan global, sosialitas kehidupan empiric
Pada sumbu-sumbu kebajikan spritualitas
Untuk membentuk sikap, nurani dan mentaliteit
Dalam keadaban yang sempurna

Langara, 13 Februari 2016
WAWONII BERSINAR
Share:

Baiat Kehidupan

BAI'AT KEHIDUPAN


Tanpa terasa perputaran sumbu bumi telah membilang waktu dengan angka-angka yang pasti, helai-helai nafas yang masih tersisa perlahan mampu menyambung batang-batang usia sampai di umur senja, hingga manusia dapat tegak berdiri pada raut muka bumi walau terpaksa harus merengkuh hidup dengan langkah yang tertatih-tatih. Alangkah sebuah kearifan alam telah memberi nafas panjang walau hanya untuk bertahan hidup sementara diatas dunia, agar manusia bisa merangkai cerita dan kisah-kisah perjalanan hidupnya, yang nanti akan menjadi kenangan disaat-saat usia senja di saat kita sedang menunggu giliran ketika maut kelak akan menjemput kita.

Manusia seharusnya menyadari, bahwa ia dihidupkan sejak dari bayi yang belum bisa apa-apa, hingga ia remaja, dewasa dan tua bangka sampai iapun akhirnya akan mengalami sebuah kematian. Tuhan telah menciptakan manusia dengan kearifan yang sempurna, Tuhan telah memberi anugerah yang agung untuk ia hidup lebih lama tanpa syarat kecuali hanya dengan amanah yang di titipkannya. Ia pun telah membimbing manusia pada jalan yang benar agar manusia dapat kembali menghadap sang khalik dengan pengabdian yang sempurna pula. Maha kuasa Allah telah menempatkan manusia pada raut kecintaan penghambaan diatas bumi yang mengapung diatas samudera alam tanpa pelampung. Sungguh fenomenal, sebuah kemuliaan yang agung Tuhan cipta dengan kodrat alamiah, yang kemudian menjadi azas keabadian yang Allah peruntukan agar manusia banyak mengambil pelajaran dengan hikmah yang tinggi. 

Allah menciptakan manusia dengan eksistensi hidup dalam sebuah perjalanan panjang, dengan amanah yang di peruntukan Allah akan mengujinya seberapa jauh manusia melangkah, hingga ia mampu menunaikan konsekwensi tanggung jawab yang ia emban sebagai khalifah di bumi.

Dari dunia yang terbentang luas ini Allah memberi hikmah tentang makna-makna hidup, agar manusia mau menggunakan akalnya kelak dengan nalar yang ia di peruntukan. Dengan hati dan jiwa yang tersingkap Allahpun memberi pelajaran pada martabat yang agung, rahmat yang tinggi serta naluri yang dalam untuk menelusuri jejak-jejak penghambahan manusia sesuai hakikat atas penciptaannya. Manusia tak lantas bergembira dengan gelak tawa yang terbahak-bahak hingga ia lupa bahwa ia datang tanpa apa-apa ketika dahulunya baru terlahir dan kelak ia akan meninggalkan dunia ini hanya sekedar ia membawa kain kafan yang membungkus tubuhnya berlapis tanah. Tapi manusia kadangkala lupa dan sama sekali tidak menyadari kalau hidupnya hanya dititipkan lewat masa waktu yang Allah sudah tetapkan dengan pasti pada kodrat yang azali .

Kita patut membuka kembali catatan perjalanan hidup dengan perlahan, mulai kita hanya bisa merangkak dari bayi, jatuh bangun hendak kita baru belajar berdiri kemudian berjalan hingga kita mampu berlari kencang menemui ketuaan di akhir pengembaraan nyata diatas dunia ini. Adakah yang bisa kita banggakan dari keuzuran tenaga yang tidak dapat lagi menyangga kaki untuk tegak berdiri karena sudah mulai lemah dan kaku ? Kita hanya bisa ngomong besar dan sesumbar untuk menutupi kelemahan yang di rundung senja, ketika batang-batang usia sudah tinggi dan mulai layu. 

Manusia lahir dengan fitrahnya, laksana kertas putih yang belum bertuliskan apa-apa. Manusia mulai menggoreskan tinta hitam pada lembar suci kehidupan untuk menentukan dirinya, apakah ia akan berjalan sesuai jalur penghambaan yang semestinya ia tercipta ataukah kemudian ia akan berjalan pada kehendak dunia kebebasan yang menurutkan hawa nafsunya sendiri tanpa kendali. 

Hari-hari yang terbuka untuk bisa melakukan aktifitas hidup dengan pasti mencatatkan angka-angka, walau tanpa harus mengelak sesuatu yang terjadi pada dirinya adalah sebuah jalan hidup yang nyata menyangkut identitas penghambaan dan eksistensi kebenaran hidup sesungguhnya yang ia alami. Walau kemudian sederet kisah hidup mengerikan turut serta dalam perjalanan menuju wisata abadi, adalah pilihan hidup kita sendiri yang sebenarnya Allah tidak menentukannya kecuali hanya semata pengabdian yang ia tetapkan sebagai konsekwensi amanah baginya.

Tapi mengapa manusia angkuh dan sombong ! mengapa manusia masih saja mengandalkan kekuatan yang ia punya untuk memperdaya orang lain hanya karena ego yang tinggi. Sungguh ironis, ditengah-tengah cipta maha karya yang Allah peruntukan sebagai pelajaran bagi manusia masih saja terjadi sikap diri yang rendah mengabaikan fungsi-fungsi nalar dan kreatifitas berfikir untuk memproduksi ide serta gagasan. Jiwa suci yang Allah berikan untuk merekam seluruh aktifitas hidup agar perjalanan menuju wisata abadi manusia dapat berada pada rel kebenaran, sehingga kemudian kita dapat mencapai tujuan akhir dengan selamat dan penuh berkah. 

Wahai saudaraku ... semuanya. Andaikata kita bisa memutar kaleidoskop tentang kehidupan kita dari awal, mungkin disana kita hanya bisa tertengadah dan bingung, bilakah terjadi sebuah keajabaian yang kuasa menciptakannya. Tapi mengapa manusia sombong dengan apa yang kini ia miliki padahal iapun tak miliki kekuatan apa-apa kecuali hanya dititipi amanah baginya untuk kemaslahatan sesamanya. Manusia diberi ilmu yang tinggi, diberi kekayaan dan harta yang banyak dan bahkan diberi kekuasaan yang luas untuk mengatur dunia ini, namun manusia murka karena tidak dapat menjaga amanah baginya sesuai anugerah yang dititpkan Allah kepadanya.

Saudaraku... kita berkacalah pada diri karena sesungguhnya diri itu adalah cermin jiwa. Orang tidak akan melihat apa kata yang terucap tapi melihat setiap sikap dan tindakan apa yang telah kita lakukan kemudian, sehingga manusia hanya bernilai pada perbuatannya bukan pada omongannya. Artinya bahwa kita jangan hanya bicara pada tataran konsep dan teori semata tapi butuh tindakan dan implementasi yang nyata sebagai wujud pengabdian hakiki sesungguhnya.

Jika hal itu manusia dapat melakukan maka manusia dapat mencapai harkat kemanusiannya sesuai konsekwensi hidupnya dia diciptakan. Karena itu maka sepatutnya kita merenungi hidup ini dalam samudera ma’rifat dan seketika itu kita mendapat risalah dari pertapaan jiwa terhadap sekalian amanah yang kita emban, maka kelak kita akan mencapai martabat kemanusiaan yang tinggi. 


Langara, 13-02-2016

WAWONII BERSINAR
Share:

Hakim Tunggal

HAKIM TUNGGAL

Karya : Arif Gazali Sidek




Wajah – wajah sendu dan muram

Ketika pada hari-hari dimulainya perhitungan

Membuka catatan-catatan harian dikala dulu melata

Diatas bumi dengan kuasa berjalan tanpa peduli


Allah menabur angin sekedar mengumbar kesejukan

Disetiap penjuru dengan perasaan dingin berhembus

Tatkala mengingatkan sayup-sayup kelembutan

Bagi dunia nyata, saat- kita kekar dahulunya


Sungguh menakjubkan, tercengang bahkan kaku

Mata sayu, luluh dengan air mata berkaca - kaca

Telinga bisu yang tak mampu mendengar rintihan

Mulut pun terkunci hingga tak mampu lagi berbicara


Disana Allah perlihatkan sebuah buku catatan harian

Mulai dari bayi sampai berubah jadi tua bangka

Dari setitik kebajikan hingga mudarat yang besar

Mulai setampuk dosa hingga pada segudang pahala


Disana adalah fakta yang tak akan mampu terelakan

Tiang kebenaran akan tegak berdiri tanpa penyangga

Nyata segala perbuatan dengan sumbu-sumbu kebenaran

Pengadilan azali dengan Allah sebagai hakim Tunggal














Kendari, 13 Desember 2014


WAWONII BERSINAR
Share:

WAWONII BERSINAR Dalam Perspektif Filosofis




Wawonii Bersinar adalah ungkapan atau ekspresi dari dua suku kata yakni, Wawonii dan Bersinar. Wawonii mengandung arti bukit kelapa atau bukit kemakmuran sedangkan Bersinar artinya Pencahayaan Negeri atau pulau ini. Jadi secara filosofis pandangan maknawi Wawonii Bersinar adalah sebuah ketinggian cita-cita masyarakat dan daerah untuk mewujudkan kebahagiaan, kemakmuran dan kesejahteraan melalui cahaya atau sinar-sinar potensi anugerah yang ada di pulau ini atau pulau Wawonii. 

Wawonii sendiri merupakan ungkapan dari dua suku kata pula yang masing-masing memiliki makna yang dalam secara filosofis. Antara Wawo dan Nii memiliki nilai kandungan hakiki yang dapat dimaknai sebagai junjungan moral yang tinggi. Wawo adalah diatas, ketinggian, bukit atau perbukitan yang nenunjukan tempat dimana segerombol manusia berdiam hidup dan menetap disaat masa lampau, tepatnya didaerah perbukitan dekat Tangkombuno sebagai pusat kerajaan Wawonii masa lalu. Nii berarti kelapa atau komoditi yang tumbuh menjulang diatas perbukitan tersebut. Sehingga keduanya antara Wawo dan Nii merupakan satu kesatuan makna yang tak terepisahkan untuk menggambarkan nilai kandungan hakiki yang sangat dalam. Nii atau kelapa merupakan komoditi paripurna karena komoditi tersebut dapat dimanfaatkan bulai dari akar, batang, daun dan buahnya. Karena itu bagi suku/etnis asli wawonii “ TO WAWONII “ sangat mensakralkan kelapa sebagai nilai yang agung, karena kelapa dijadikan sebagai Mas Kawin atau Mahar yang bersifat wajib dalam setiap prosesi adat perkawinan suku wawonii.

Kelapa juga merupakan tumbuhan khas yang banyak dijumpai di pulau ini mulai dari pinggir pantai sampai ke pegunungan. Hal ini kemudian yang menjadi inspirasi untuk menamakan pulau ini sebagai pulau Wawonii atau pulau kelapa. 

Melihat makna dan arti yang dikandung keduanya sama-sama menunjukan ketinggian, antara Wawo dan Nii sama-sama memiliki makna yang menunjukan tinggi, Wawo yang berarti bukit atau diatas atau ketinggian sedangkan Nii adalah kelapa atau jenis tumbuhan komoditi yang tinggi menjulang, sehingga kemudian diantara keduanyapun memiliki pesan yang sama yakni ketinggian harapan atas cita-cita moral yang ingin dicapai oleh masyarakat yang mendiami pulau ini.

Dalam perspektif pandangan filosofis Wawonii adalah kemuliaan atau kebajikan yang tersembunyi dan menyingkap banyak hal tentang anugerah pulau ini. Bukit dan kelapa merupakan penggambaran hakiki betapa pulau ini memiliki nilai yang amat tinggi sebagai perwujudan yang dicapai dalam rangka kesejahteraan buat seluruh penghuni pulau ini. Bentuk fakta empiris telah menunjukkan bahwa pulau ini, pulau wawonii berbentuk hati manusia sebagai alam kebajikan yang nyata. Pulau ini menyerupai hati yang telah memperoleh rahmat dan anugerah dari Allah SWT dengan sinar-sinar iman dan kebajikan. Hati yang memiliki cahaya ma’rifat ketuhanan terhadap penghambaan, dimana HATI adalah istana kerajaan yang didaulat untuk memberi cermin kehidupan setiap hamba atas semua bentuk perlakuan dan tindakannya. Maka kemudian kalau kita menilik dari hikmah atas penggambaran maknawi yang nyata pada pulau Wawonii sebagai pulau hati, seyogyanya setiap manusia yang berdiam di pulau ini dapat memberi manfaat dan maslahat yang amat besar, buat pengembangan potensi baik kreatifitas maupun kesejahteraan masyarakat dan daerah Konawe Kepulauan. Dengan demikian maka setiap manusia yang berada di pulau Wawonii akan memperoleh dan membawa cahaya hati, cahaya kemuliaan diri, cahaya keagungan dan rahmat untuk mewujudkan Wawonii yang bersinar menuju cita-cita kesejahteraan abadi yang menyeluruh. 

Bersinar adalah cahaya atau sumber cahaya yang memberi pencerahan terhadap alam, baik pada alam hidup manusia dalam bentuk mikro yang tersusun dalam bentuk nalar, hati maupun jiwa yang menjadi penggerak hidup terhadap pencahayaan yang bersifat immateril, maupun terhadap pandangan alam makro dengan luasan alam raya dan seisinya. SINAR adalah energi yang menjadi sumber kehidupan alam ini, menjadi vitalitas dari keberadaan hidup termasuk revolusi keberlangsungan alam raya yang Tuhan cipta termasuk kita.

Kalau kita tarik benang merah diantara rangkaian kedua suku kata antara Wawonii dan Bersinar telah menjadi makna yang mengandung penafsiran yang secara filosofis memberi arti hidup yang sangat dalam, beragam dan substansial. Wawonii tidak hanya sekedar ungkapan dari dan untuk sebuah nama namun dibalik itu semua dapat menyingkap rahasia-rahasia keajaiban yang sungguh menakjubkan pada penciptaan Allah terhadap alam ini.

Wawonii adalah samudera kebajikan. Wawonii adalah anugerah yang tercipta untuk sebuah kemaslahatan hidup, baik ia sebagai individu, etnis dalam komunitas kelompok maupun masyarakat, daerah dan bangsa. Sehingga kemudian Wawonii telah memiliki karakter kebajikan yang sempurna dari perpaduan berbagai hal dan menyatu secara utuh dan sempurna, melalui elaborasi perpaduan cita, rasa dan karsa dari orang-orang yang memiliki cahaya, memiliki sinar kodrat penciptaan yang mendiami pulau ini dan menjaganya secara sempurna pula.

Wawonii adalah mahligai indah yang memberi watak dan simbolitas yang agung terhadap manusia yang ada didalamnya, jika kemudian terjadi sifat dan perbuatan untuk merusak warisan titipan yang Allah cipta, itu merupakan bentuk keingkaran terhadap simbolitas dirinya atas penciptaannya.

Karena ia memiliki nalar pada kepalanya tapi ia tidak memberinya cahaya untuk berfikir, ia memiliki hati di dadanya tapi tidak memberinya cahaya untuk menyadari segala bentuk perlakuan dan tindakan yang ia lakukan dan iapun memiliki jiwa yang meliputi segenap raganya tapi tidak memberinya cahaya untuk mencerah atas laku, perangai dan sikap-sikap yang ditunjukannya.

Wawonii bersinar adalah pencapaian dari perwujudan cita-cita moral yang dilandasi dengan 4 (empat) gradasi pencahayaan diri yakni :

- cahaya nalar

- cahaya hati

- cahaya jiwa dan

- cahaya sikap/tindakan

Berlandaskan pada keempat hal tersebut, manusia memiliki arah pandangan yang jelas yang meliputi segala pikirannya, memiliki konstruk nalar yang padat untuk mendesain konsep hidup yang maslahat dan bermanfaat untuknya. 

Jika iapun menghadapi berbagai hal tantangan yang mengganggu dalam samudera hidup penghambaannya, maka ia telah memiliki hati yang menuntun atas jalan-jalan yang kelak akan dilewatinya, sehingga tak cukup baginya untuk menemukan berbagai alasan untuk membela atas kesalahan dirinya pula. 

Setiap individu memiliki cahaya yang dibawanya, setiap individu memiliki energi positif untuk menterjemahkan alam yang dihadapinya. Wawasan dan gaung fikiran manusia yang luas meliputi alam raya akan banyak melahirkan inspirasi dan kreatifitas ide untuk menemukan gagasan-gagasan brilian, yang nanti akan melahirkan banyak karya sebagai wujud sebuah pengabdiannya.

Wawonii Bersinar merupakan konsep pendakwaan diri sebelum dapat melahirkan teori dan aplikasi terhadap ilmu yang dimiliki, wawonii bersinar lahir sebagai format konsep natural yang memiliki landasan pemikiran yang jernih dan suci, karena tatkala manusia memiliki energi dan cahaya-cahaya pembenaran dari konstruk fikir yang bersumber dari energi yang suci pula, maka implikasi nilai –nilai hidup yang dialaminya akan berwujud pada kemuliaan hakiki yang menjawab tantangan masa depannya dengan kemaslahatan yang sempurna.

Wawonii Bersinar sebagai konsep ideologi transformatif alam, memiliki landasan spritualitas sejati. karena itu Wawonii Bersinar merupakan perpaduan nilai –nilai faktum normatif, integritas budaya, agama dan kearifan alam, yang kemudian akan memberi nilai martabat hakiki bagi pencapaian sebuah kemuliaan manusia.

Karena itu pula dalam perspektif peradaban kekinian yang terjadi dalam masyarakat adat Wawonii, telah lahir sebuah tradisi pengkultusan pemuliaan manusia yang memiliki nilai-nilai kesamaan dalam derajat sosial dengan sapaan TAATA bagi kaum laki-laki dan TIITI bagi kaum perempuan. 

Sapaan tersebut berlaku secara umum dan terjadi pada semua strata sosial baik sebagai orang tua, orang dewasa, remaja, anak dan balita maupun ia sebagai penguasa, tokoh, cendekiawan, masyarakat awam dan rakyat jelata berlaku juga dengan tak terkecuali. 

Dinamika perkembangan sosial modern dengan trend perubahan arus global dunia akibat pengaruh teknologi mutakhir, memberi ruang berfikir kepada manusia untuk kembali pada tradisi-tradisi klasik, yang dianggap sebagai reorientasi pencarian jatidiri sesungguhnya dan manusia ternyata sangat tidak bernilai apa-apa, kecuali kembali pada penyadaran bahwa manusia dilahirkan kedunia juga tanpa apa-apa pula yang ia bawa.

Karena itu, maka Wawonii Bersinar memberi perhatian untuk sejatinya kita kembali pada kondisi kesucian diri, dengan memberi sinar-sinar hidup dengan pencahayaan yang sempurna dalam kehidupan, untuk mendapatkan anugerah yang diperuntukkan Tuhan pencipta alam ini.
Share:

Recent Posts

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *