• Menelusuri jejak Menguak Rahasia Mutiara Pulau Wawonii

    Rona senja yang merarak langit di ufuk barat, ketika itu bola matahari yang terlihat sangat jelas. sinar yang semakin redup berwarna maron, hendak berjalan semu perlahan masuk kedalam peraduannya.

  • Dermaga Cinta

    Ku mulai jalan ini mengayuh biduk bersama cahaya rembulan di tengah purnama, walau diantara buih meniti samudera dengan semangat yang melambung jauh untuk menggapai harapan, alangkah kerinduan dengan jiwa yang menepi laut tak kuasa untuk melangkah sampai tujuan.

  • SEKAPUR SIRIH ( PESAN PERKAWINAN )

    Karena takdir sesuatu yang pasti akan terjadi Allah peruntukkan, entah kapan, dimana dan kepada siapa “ Jodoh “ itu Tuhan tunjukkan adalah sungguh menjadi rahasianya, namun itu pasti terjadi “

  • TAPUNO MASEKENO

    Toponimi sebuah tempat atau daerah selalu mendasarkan pada inspirasi atau fenomena dari kejadian atau peristiwa yang ada didaerah tersebut untuk menjadi nama atau penyebutan sebuah daerah lazim menjadi tempat atau daerah penghunian.

  • Membangun Pariwisata Konawe Kepulauan Berbasis Budaya

    Salah satu potensi yang sangat menjanjikan dalam rangka upaya menggali sumber-sumber pembiayaan pembangunan daerah di Kabupaten Konawe Kepulauan adalah sektor pariwisata.

RENUNGAN HIDUP



Renungan Hidup

       Setampuk jiwa yang bergetar, oleh sukma yang bertasbih menyentuh nurani, menyingkap tabir kehendak dengan bias-bias kebenaran hakiki. Raga yang mengelus penyesalan seraya tunduk pada sikap pribadi yang rendah dan bijak, sebuah persembahan yang jauh menyurut kesalahan, hingga keangkuhan duniawi tercipta pada sisi-sisi hidup manusia. Walau manusia terlahir dari sosok yang sempurna, namun kadang tanpa sadar telah tunduk pada penyimpangan perilaku yang naif, karena petaka arus zaman yang berliku hingga ucapan membias keraguan tanpa kehendak yang nyata. Namun sikap telah menggoyang keadaban tanpa sadar kalau kita telah terinjak-injak oleh hegemoni perilaku tanpa etika dan moral. Sesungguhnya kalau kita mendalami akan filosofi hidup manusia bahwa kita datang tanpa apa-apa dari pintu yang sempit “ rahim ibu “, namun oleh anugerah Allah yang telah mencipta manusia menjadi keadaan yang sempurna. Allah memberi dua mata tapi tidak melihat, memberi dua telinga tapi tidak mendengar, namun hanya memberi satu mulut tapi terlalu banyak berbicara, sehingga Allah menarik dengus nafas secara perlahan hingga menjadikan raga ini kaku terkujur yang namanya kematian. Pada alam yang terbentang luas mestinya manusia harus bisa menyelami samudera hidup, manusia harus berani mengungkap kebenaran, dan nurani harus berani berkata jujur sesuai dengan bisikan qalbunya. Tapi apakah manusia mau melakukan semua itu untuk mengingkari kehendak rasionya yang mengendarai jiwanya untuk mengatakan tidak. Niscaya itu sebuah teka teki yang selalu mengusik pada benak kita untuk menentukan sikap dan tindakan yang bijak dalam kehidupan yang nyata. Semua akan jelas dan terbuka ketika kita lewat pada pintu-pintu ketulusan, jendela keikhlasan serta pada ruang-ruang keagungan, yang disana manusia akan di periksa dengan seksama tentang kesucian jiwanya dan terhadap sikap dan perbuatan yang ia bawa dalam bentuk sebuah amanah baginya. Allah akan menilik helai nafas yang masih tersisa untuk dihadapkan pada pemilik kekuasaan atas alam ini seluruhnya.
       Dengan batang-batang usia yang sudah tinggi dan mulai uzur, seharusnya menyadarkan kita betapa ilustrasi alam yang Allah cipta adalah sesungguhnya merupakan esensi kebenaran yang di permaklumkan untuk mengingatkan kita akan kemaha kuasaan Allah yang tiada tandingannya. Namun manusia latah, angkuh dan sombong karena menganggap dengan kemampuan nalarnya ia bisa mengadakan segala sesuiatu yang di kehendakinya, sementara ia lupa bahwa ia hanya di beri titipan kehendak dari pikiran dan nalar baginya adalah sesuatu yang diciptakan Allah untuknya, agar ia mau memahami tentang alam dan kehidupan yang luas sesuaai tuntutan amanahnya. Berbagai fenomena alam raya yang Allah cipta, adalah bentuk penggambaran kepada kita bahwa di balik ciptaan itu senantiasa ada hikmah besar yang tersingkap sebagai pelajaran untuk kita maknai, kita terjemahkan pada latar kehidupan yang kita jalani sebelum datangnya sebuah hari kematian yang sudah mulai mendekat dan pasti. Mestinya akal rasional kita dapat menangkap tentang gejala-gejala kehidupan itu, karena Allah telah membuka ruang dan waktu dengan kunci-kunci penalaran manusia, agar manusia mau berfikir terhadap hidup dan esensi keberadaannya ia di lahirkan. Langit membentang luas dan di tinggikan begitu kokoh tanpa dinding dan tiang penyangga, berjuta bintang yang berkedip dimalam hari bercahaya tanpa sentuhan tangan manusia dan rekayasa teknologi olah pikir manusia, lalu pada bola matahari yang bersinar dan memberi energi kehidupan adalah sebuah keajaiban besar yang Allah cipta sebagai jawaban bahwa manusia hanyalah sebagai ciptaan kecil dan terbatas yang tiada arti apa-apa kecuali hanya dengan mengandalkan kesombongan yang ia punya. Tapi mengapa manusia masih latah, sombong dan angkuh serta membanggakan akan sebuah kreatifitas dirinya sebagai hasil ciptaannya sendiri? Padahal tanpa ia sadari bahwa pada raga kemudian yang ia gunakan untuk beraktifitas adalah berdasarkan kehendak ruh yang ia sendiri tak mampu mengenalinya.
       Demi pada konsekwensi penghambaan mestinya manusia meluruskan niatnya, sikap serta perbuatannya di antara tanggung jawab dan amanah yang di bawanya. Manusia harus melakukan pembimbingan jiwa untuk mencapai taraf-taraf kemuliaan diri serta martabatnya. Namun jika kehendak yang di bawanya larut pada kebendaan duniawi, nilai materialistik dan sikap hedonisme sejati maka dengan pasti manusia akan terpuruk pada dasar kemungkaran yang akan menimbulkan bencana bagi dirinya. Sungguh dengan iradat yang Tuhan beri dan pada fatwa yang benar, maka pintu anugerah kelak membawanya pada sebuah ketegasan yang nyata dalam kesatuan tunggal antara kesatuan perkataan dan perbuatan, antara kesatuan sikap dan tindakan yang di lakukannya dan kesatuan antara niat dan perilaku berdasarkan  seluruh kehendak pada ketulusan nuraninya. Maha suci Allah yang telah menciptakan jiwa dan raga dalam sebuah kesatuan tunggal, hingga manusia memperoleh buah kebajikan pada alam perlindungan yang Tuhan cipta, terhadap cahaya keimanan yang Tuhan peruntukkan sebagai penerang untuk mencapai kehadiratnya. Walau saja nurani bicara dalam kepastian yang sesungguhnya tapi manusia dapat memperoleh predikat yang agung dan mulia, karena pada intensitas diri yang bertasbih pada kebenaran akan menunjukkan betapa manusia memiliki martabat, kejujuran dan hikmah dari binar-binar cahaya iman yang terpancar pada hakikat ma’rifat yang tertanam dalam jiwanya.
Sungguh keabadian yang sempurna adalah nilai-nilai taqwa yang tertancap kukuh pada jiwa-jiwa yang suci dan manusia sebagai hamba patut membuka ruang-ruang qalbu sebagai tempat terbitnya cahaya iradat yang Allah cipta dan meliputi segenap raga sekalian yang utuh.       
Tapi mengapa manusia rapuh dalam pendirian? dan mengapa pula manusia lalai dari kodrat nuraninya untuk menyatakan benar ataupun salah ? Pertanyaan tersebut di atas adalah ungkapan perasaan yang hakiki dalam sebuah ideologi jiwa, dimana pada taraf kondisi kepribadian manusia yang rendah dan labil maka menyebabkan tingkat fluktuasi emosional manusia akan terjadi. Sehingga bentuk-bentuk penyimpangan pada diri dalam wujud tindakan dan perilaku maupun pada bentuk ketetapan pikiran yang selalu berubah-ubah. Manusia dengan kecenderungan berfikir materialistik dapat menghamba pada loyalitas duniawi karena hegemoni terhadap kebutuhan manusia yang mendewakan kebendaan materiil. Betapa sulit bagi manusia untuk menampik, mengelak dan bahkan menghindarinya, karena ia telah terperangkap pada dimensi materialisme global dengan alasan kepentingan kesejahteraan.
Walau manusia sebagai insan yang lemah dan naif dapat di beri predikat mulia baginya, karena pada manusia di beri dua unsur potensi sekaligus yakni akal dan hati. Dengan akal manusia di beri nalar untuk berfikir analitis dan dengan hati manusia di beri jiwa untuk memaknai hidup dengan sifat-sifat atas kodrat kemanusiaannya. Jika di antara keduanya dapat berjalan seimbang dan padu maka sungguh predikat mulia itu dapat memberi makna identitas hidup yang benar dan bahwa manusia sebagai makhluk sosial dapat memiliki martabat yang tinggi untuk memegang amanah kemaslahatan bagi semuanya. Karena itu manusia telah memeiliki potensi fitrah kesucian untuk menjadi pewaris alam ini sekaligus khalifah fil ardh untuk memeliharanya. Namun dengan memiliki sifat lemah dan pelupa itu sangat manusiawi, sehingga manusia dapat di permaklumkan bahwa untuk menyatakan benar atau salah adalah sebuah pilihan dari konsekwensi jiwa yang harus ia terima dalam menentukan sebuah nilai hidup. Karena itu dalam filsafat hidup manusia, konsistensi, integritas, keteguhan dan prinsip moral  serta ideologi yang kuat adalah kenyataan kehendak bathiniah sebagai nilai-nilai moral kebenaran atas eksistensi kehambaan manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki akidah serta tauhid yang sempurna, sehingga ia tidak mudah goyah, rapuh bahkan kecewa dan putus asa.

Rintihan Jiwa
Walau bagi manusia untuk menyatakan yang benar itu susah dan untuk berucap yang salah itu sangat mudah dia lakukan, karena mungkin hegemoni sebuah loyalitas zaman yang berubah dan di jadikan sebagai alasan pembenaran. Namun ketika orang berbicara kebenaran atau kepastian untuk menunjukkan kejelasan sebuah prinsip terhadap konsistensi jiwa, tentu saja nilai-nilai hakiki tentang kehidupan akan selalu berhubungan dengan moralitas atau etika keadaban manusia yang harus di penuhi. Sehingga problematika tentang kegaduhan, kebimbangan, kegalauan dan bahkan trauma dalam memandang sesuatu yang naif adalah bentuk penyimpangan psykologis yang di identikkan dengan psycosomatic yang memerlukan terapi sosial agamis \atau terapi spritualitas.
Dalam banyak hal pada setiap lembar kamus alam telah memberi pelajaran pada kita bahwa dengan munculnya berbagai fenomena hidup yang kadang tak mampu di tangkap rasionalitas manusia, adegan-adegan kosmis yang membawa sindrom baru tentang hidup manusia adalah sebuah desain dan formulasi yang membingungkan. Apakah manusia harus kembali pada orientasi zaman lampau dimana sistem nilai yang tumbuh dan berakar pada sendi-sendi kehidupan yang serba ortodoks ataukah kemudian manusia harus memulai hidup dengan konsep gila untuk menata hidupnya kemasa depan?
Sederet imajinasi dan fenomena sosial yang terjadi telah mengundang perhatian banyak pihak untuk memberi pencerahan terhadap nilai-nilai kehidupan nyata. Berbagai gerakan pencerahan yang di lakukan untuk membentuk sebuah pribadi sederhana dan mampu menangkap sinyal-sinyal realitas yang terpendam. Walau demikian di berbagai sudut negeri masih saja terjadi kesenjangan dan praktek-praktek ketidak adilan yang nota bene adalah penzaliman terhadap sesama kaum penghamba di mata Tuhan. Sebuah pesan dari fatwa-fatwa kebenaran mencoba memberi ruang pada bilik-bilik jiwa manusia, sentuhan paradigma ketulusan untuk memberi warna pengabdian sesungguhnya, hingga nurani dapat berkata sesuai kehendak dari bisikan kebenaran yang hakiki. Dari pesan-pesan kebenaran itu menginspirasi lahirnya gerakan jalan lurus untuk mewadahi terbentuknya pencerahan nurani atas ketimpangan moralitas yang terjadi.  
Gerakan jalan lurus atau gerakan nurani adalah sebuah gerakan moral yang bertujuan untuk memberi pencerahan pada jiwa yang bisu, pekak dan tuli, agar dalam kehidupan kita sebagai hamba dapat beroleh jalan yang lurus berdasarkan risalah kebenaran yang nyata sebagai pembawa amanah yang mulia. Gerakan ini sesungguhnya telah merasuk pada lubuk hati bagi jiwa penghamba, walau kemudian mereka tidak mengejawantahkan dalam nilai-nilai kehidupannya, itu telah berarti penzaliman terhadap dirinya sendiri. Pandangan-pandangan yang jernih dan lahir melalui kesadaran nurani bagi manusia merupakan sebuah revolusi mental terhadap upaya upaya perubahan diri, sehingga pada taraf dimana manusia dapat memperoleh reputasi yang tinggi dapat pula menunjukkan bahwa apa yang kemudian ia lakukan adalah penyederhanaan kebajikan dari hakikat pandangan secara maknawi, sebagai hamba Tuhan pada sebuah jalan yang tanpa kecuali setiap manusia harus pula melaluinya.
Hal ini tentu adalah lazim karena manusia memiliki karakter yang unik dan selalu dipahami, sehingga kadangkala sifat dan tindakan yang ia lakukan selalu tidak bersesuaian antara perkataan dan perbuatan sebagai konsekwensi nuraninya. Disana manusia perlu mendapat bimbingan rohani, pelatihan mental dan pencerahan watak di dalam menjalani aktifitas hidup menuju cita cita material yang ia capai dengan sempurna. Manusia selalu memiliki keinginan dan cita cita yang tinggi, manusia selalu mempunyai mimpi mimpi indah dan imajinasi yang cemerlang, namun tak mudah untuk mewujudkannya. Kreatifitas yang berliku dan tanpa batas adalah hal biasa dimana manusia selalu mencoba dengan konstruk fikir dan nalar yang tajam, namun apa yang terjadi adalah pada batas maksimal upaya manusia dari factor trasendental ketergantungan,   harus dipahami bahwa sesungguhnya ada nilai supra dibatas alam ini yang menentukan segala kepastian yang sempurna. Manusia punya rencana dan Allah pun punya rencana namun rencana Allah lah yang lebih pasti. Tapi apakah manusia tidak pernah menyadari akan keterbatasan dirinya, ia lahir tanpa apa apa lantas kemudian ia dirawat dan dibesarkan tanpa sebuah kemampuan apa apa pula, hingga iapun tumbuh dewasa dan berhasil. Setelahnya ia merasa bahwa semua apa yang ia miliki merupakan upaya baginya berdasarkan kemampuan nalarnya termasuk kesuksesan yang ia peroleh. Padahal atas serentetan semua peristiwa yang menyelimuti alam hidup manusia termasuk fenomena ajaib yang tak mampu dijawab oleh alam fikiran kita, adalah ujian Allah bagi orang orang yang mau berfikir dan mau menggunakan nalarnya. Namun adakah ruang untuk menterjemahkan kejadian alam ini dengan kemampuan rasio berfikir? Adakah pencipta selain Allah yang menggerakkan perjalanan tata surya tanpa rumus dan angka angka namun dengan kenyataan yang pasti? Sungguh manusia tidak pernah menyadari bahwa keberadaan dirinya hanyalah di utus untuk menjelajahi alam ini agar ia mau menggunakan akalnya untuk berfikir. Betapa maha kuasanya Allah menciptakan alam ini, dengan tujuh petala langit yang ditinggikan dan tujuh lapis bumi dihamparkan tanpa manusia tahu apa apa. Apakah manusia masih akan berlaku sombong dengan mengandalkan  kemampuan akalnya, sementara ia sendiri tanpa tahu kapan ia dilahirkan dan kapan pula ia akan dimatikan.
Dengan semakin mendekatnya kecenderungan tanda tanda zaman terhadap perubahan sudut pandang maknawi maka selayaknya kita patut mempersiapkan diri dengan menumbuhkan gerakan revolusi mental melalui konsep spritualisme religius dalam bentuk bentuk kehidupan nyata dan dinamis. Kehidupan yang bahagia dan abadi hanya akan dapat diperoleh melalui jalan lurus menuju pintu pintu ma’rifat, agar kita dapat beroleh nikmat dan berkah yang agung berdasarkan kehendak Allah maha kuasa pemilik alam ini seluruhnya. Doa yang tulus menyertai jiwa jiwa yang suci untuk meniti jalan anugerah melalui tangga tangga keikhlasan yang sempurna menuju liqa Allah. Amin, amin ya rabbal alamin. 
Dalam rangka pengabdian itu manusia harus memiliki landasan moral dengan jiwa yang suci, harus memiliki kepatuhan pada norma-norma dan etika. Setiap hamba harus dapat mengejawantahkan nilai-nilai dan norma yang berlandaskan pada kesucian jiwanya, sehingga apa yang akan di emban sebagai amanah akan memiliki aplikasi yang murni terhadap pengabdiannya. Namun teramat sulit untuk merekonstruksi jiwa yang sudah terlanjut kotor dan bengis, karena ia telah bercampur aduk dengan sifat-sifat kebinatangan yang selalu di kendarai oleh nafsu dunianya sendiri tanpa berusaha untuk mensucikannya kembali.
Ketika Jiwa saat masih berdiri sendiri dan memiliki cahaya sendiri tanpa ada yang menutupinya, sehingga pintu-pintu kosmis masih terbuka untuk memandangi kegaiban secara maknawi. Jiwa masih belum berbaur dengan unsur materi yang memiliki kemauan, kehendak dan nafsu, jiwa masih memiliki kesadaran, kemurnian, ketaatan dan kepatuhan, sehingga ia memiliki hakikatnya sendiri tanpa keterpengaruhan. Namun manusia adalah makhluk yang memiliki replika keduanya, di samping ada unsur jiwa yang suci juga manusia memiliki  raga yang tersusun dari unsur-unsur materi, sehingga memiliki dorongan sifat-sifat kemanusiaan yang di kendarai oleh protektif nafsu untuk melakukan sifat-sifat kehambaan terhadap kemegahan duniawi yang cenderung deflektif. Sehingga terjadi pertentangan di antara keduanya dan menimbulkan dekadensi atau kemorosotan yang cukup drastis. Kemerosotan dan gradasi tingkat penyadaran hakikat diri menyebabkan ruang-ruang qalbu telah dominan pada keangkuhan tanpa cahaya, sehingga cenderung menimbulkan sikap dan tindakan destruktif yang jauh meninggalkan  pesan-pesan kebenaran. Jiwa telah tertutupi kegelapan, nurani telah tertutupi oleh gemelayut irama hedonisme dunia yang bebas tanpa moral dan adab. Refleksi keindahan dunia nyata telah jauh membawa pikiran manusia untuk melampaui batas dari sifat-sifat yang mengandung kebenaran.
Hati yang ibarat rem seharusnya dapat menghentikan laju kendaraan pikiran dan nafsu yang mengendarai jiwa manusia untuk melakukan sebuah kemungkaran, namun ia akan berjalan tanpa cahaya yang dapat menerangi arah pandang yang akan di laluinya, karena hati tak lagi memiliki cahaya iman untuk mencerah arah pandang hakiki bagi eksistensi manusia itu sendiri. Manusia lupa diri, manusia terlupa dari mana ia di lahirkan! Manusia tenggelam dalam lautan maksiat yang mendurhakai dirinya sendiri. Hingga pada kenyataan hidupnya di dunia yang serba megah, membenamkan kesucian yang melandasi iman, menenggelamkan hakikat pencahayaan pada dirinya untuk bangkit menyatakan ketinggian akan nila-nilai perwujudan kebenaran yang di embannya. sebagai konsekwensi utama atas kehadiran dirinya di atas dunia yang fana.
Manusia harus melakukan perenungan untuk menyadarkan dirinya kembali, harus mengingatkan janji-janji suci pada pertalian ruhnya, ketika ia masih di alam ruh. Manusia harus membersihkan dirinya dari selaput dosa yang melilit pada jiwanya dan manusia harus banyak beristighfar memohonkan doa dan keampunan, agar jiwa yang terbenam dengan kegelapan dapat memancarkan cahayanya kembali, dapat  memiliki sinar pencerahan hingga kelak dalam hidupnya akan menunjukkan amanah dalam tanggung jawab yang di bawanya sebagai konsekwensi hidupnya.
Share:

DUNIA PENDIDIKAN KONKEP SEDANG SAKIT


Pendidikan secara umum dapat dipahami sebagai upaya memanusiakan manusia artinya pendidikan memiliki tujuan untuk memberi pengetahuan dan watak, mendidik manusia agar memiliki moral dan etika dan memiliki martabat. Dalam hubungannya itu pendidikana yang ada di Konkep di perhadapkan pada berbagai problem dengan dinamika kasuistik yang berdampak pada sistem pengelolaan yang kurang efektif, tingkat pemenuhan mutu dan tercapainya tujuan pendidikan secara holistik. Ini tentu menjadi tantangan dan pekerjaan rumah bagi pemerintahan Konkep khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang membidangi khusus tentang maju atau mundurnya tentang pendidikan yang ada di Wawonii. Pada beberapa komentar dan artikel yang saya baca terkait pendidikan yang terjadi di Konkep, pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan hanya mementingkan pembangunan fisik dengan orientasi proyek, tanpa memperhatikan faktor-faktor mutu dalam rangka peningkatan kwalitas anak didik yang arahnya tentu mencerdaskan manusia agar memiliki pengetahuan, skill, watak serta moral.

Dunia pendidikan Konkep sedang sakit karena tidak lagi memiliki jiwa untuk membangunkan semangat, watak dan karakter untuk memiliki harkat dan martabat, karena Pemerintah hanya mementingkan model model pendidikan yang menghasilkan untuk siap memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Manusia sebagai objek adalah wujud dari dehumanisasi yang merupakan fenomena yang justru bertolak belakang dengan visi humanisasi, menyebabkan manusia tercabut dari akar-akar budayanya yang tumbuh dan berkembang. Terbukti bahwa saat ini yang terjadi adalah demoralisasi masyarakat dalam tata pergaulan sosial yang jauh mementingkan egoisitas dan kepentingan kelompok secara brutal.

Bukankah kita telah sama-sama melihat bagaimana kaum muda zaman ini begitu gandrung dengan hal-hal yang berbau Barat? Oleh karena itu strategi pendidikan kita harus terlebur dalam “strategi sebuah sistem budaya kita yang sudah lama mengakar yakni kebudayaan Wawonii”,untuk tujuan filterisasi nilai-nilai budaya asing yang mereduksi tata nilai budaya dan tradisi yang kita bangun selama ini. Mampukah kita menjadikan lembaga pendidikan sebagai sarana interaksi kultural untuk membentuk manusia yang sadar akan tradisi dan kebudayaan serta keberadaan masyarakatnya sekaligus juga mampu menerima dan menghargai keberadaan tradisi, budaya dan situasi masyarakat lain? 

Menjadi perhatian semua pihak terutama pemerintah daerah Konkep untuk segera melakukan langkah-langkah strategis dalam rangka membangun dunia pendidikan agar lebih bergairah lagi dan agar elaborasi sistematik antara budaya dan pendidikan menjadi satu paduan yang serasi untuk membentuk watak bangsa yant di dalamnya ada manusia terdidik dan memiliki etika dan moral untuk membangun bangsa ini.
Share:

REVOLUSI MENTAL KEPEMIMPINAN DAERAH KONAWE KEPULAUAN

Reorientasi pemahaman politik, budaya kesantunan serta restorasi nilai-nilai aplikatif kepemimpinan daerah yang relevan dengan peradaban modern adalah trend baru kepemimpinan dunia mutakhir, hingga di banyak negara mengadopsi nilai-nilai kultural masa lalu yang ortodoks untuk melengkapi gaya-gaya kepemimpinan masa kini. Di negara manapun termasuk negara adidaya seperti Amerika dan Rusia telah menggali dan menemukan substansi gaya kepemimpinan ortodoks yang masih relevan dengan kondisi masa kini di era teknologikal dengan sistem dan perangkat yang canggih sekalipun. Jika kita menarik benang merahnya pada kepemimpinan kebanyakan yang terjadi sekarang justru menafikkan nilai-nilai budaya yang sungguh menjadi tradisi kepemimpinan yang berhasil membawa ketenteraman rakyat di masa lalu. Mestinya kita harus belajar pada episode sejarah bukan malah melupakan sejarah dan apa yang di praktekkan para pemimpin besar dunia seperti Jawaharlal Nehru, Napoleon Bonaparte sekalipun mereka datang dari abad yang tidak melek terhadap aksara tetapi memiliki wibawa dan kharisma yang besar terhadap rakyat, maka kemudian muncul Sukarno sebagai anak desa yang mencoba dengan inspirasi besar hingga membawa Indonesia ke kancah dunia dengan label nusantara. Alhasil negara dalam arti Indonesia di bawah panji-panji Bhineka Tunggal Ika mampu menyatukan keragaman Indonesia menjadi bangsa yang teduh, negara yang damai dengan revolusi mental Sukarno.

Wawonii di masa yang lalu juga pernah melahirkan kepemimpinan kharismatik yang bernilai budaya dan berhasil mencatatkan diri sebagai pemimpin yang tersohor dengan membangun peradaban Wawonii yang mentereng. Beliau adalah Lakino Wawonii ke 8 MBEOGA yang nota bene adalah sosok pemimpin yang bijak dengan gaya-gaya kepemimpinan islam kebanyakan. Tapi mengapa kita hari ini tak bisa mengadopsi gaya kepemimpinan beliau-beliau yang telah membawa negeri yang mereka pimpinan dapat berhasil dan sukses ? REVOLUSI MENTAL perlu hadir untuk pencerahan kepemimpinan daerah dan khususnya Konawe Kepulauan yang memiliki gaya kepemimpinan modern, dengan mengabaikan pada nilai-nilai budaya dan peradaban yang telah lama tumbuh dan berakar di bumi kelapa.

Mestinya kita malu pada moyang kita sendiri yang arwahnya dapat melihat kita setiap saat apa yang kita lakukan pada negeri ini, namun kita sendiri tidak mau belajar dan mau memahami tentang budaya kita yang mengandung nilai-nilai ajaran moralitas dan etika yang tinggi.Walau itu juga belum terlambat untuk kita mulai menata daerah ini dengan kepemimpinan yang bijak asal kita mau mendengar suara-suara rakyat yang telah terisi dengan nilai-nilai budaya yang sudah mapan. Sekedar mengingatkan kita kembali bahwa sebagai manusia biasa kadang terlupa bahwa budaya menjadi jiwa untuk menghidupkan kepemimpinan masyarakat, budaya adalah perikatan moral dan etika yang telah merasuk jiwa setiap masyarakat dalam pergaulan hidup sehari-hari sehingga sebuah kepemimpinan bisa tegak, bisa kuat dan bisa tangguh menghadapi segala tantangan zaman termasuk di Wawonii.
Share:

PENDIDIKAN



DUNIA PENDIDIKAN KONKEP SEDANG SAKIT

Pendidkan secara umum dapat dipahami sebagai upaya memanusiakan manusia artinya pendidikan memiliki tujuan untuk memberi pengetahuan dan watak, mendidik manusia agar memiliki moral dan etika dan memiliki martabat. Dalam hubungannya itu pendidikana yang ada di Konkep di perhadapkan pada berbagai berbagai problem dengan dinamika kasuistik yang berdampak pada sistem pengelolaan yang kurang efektif, tingkat pemenuhan mutu dan tercapainya tujuan pendidikan secara holistik. Ini tentu menjadi tantangan dan pekerjaan rumah bagi pemerintahan Konkep khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang membidangi khusus tentang maju atau mundurnya tentang pendidikan yang ada di Wawonii. Pada beberapa komentar dan artikel yang saya baca terkait pendidikan yang terjadi di Konkep, pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan hanya mementingkan pembangunan fisik dengan orientasi proyek, tanpa memperhatikan faktor-faktor mutu dalam rangka peningkatan kwalitas anak didik yang arahnya tentu mencerdaskan manusia agar memiliki pengetahuan, skill, watak serta moral.
Dunia pendidikan Konkep sedang sakit karena tidak lagi memiliki jiwa untuk membangunkan semangat, watak dan karakter untuk memiliki harkat dan martabat, karena Pemerintah hanya mementingkan model model pendidikan yang menghasilkan untuk siap memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Manusia sebagai objek adalah wujud dari dehumanisasi yang merupakan fenomena yang justru bertolak belakang dengan visi humanisasi, menyebabkan manusia tercabut dari akar-akar budayanya yang tumbuh dan berkembang. Terbukti bahwa saat ini yang terjadi adalah demoralisasi masyarakat dalam tata pergaulan sosial yang jauh mementingkan egoisitas dan kepentingan kelompok secara brutal.
Bukankah kita telah sama-sama melihat bagaimana kaum muda zaman ini begitu gandrung dengan hal-hal yang berbau Barat? Oleh karena itu strategi pendidikan kita harus terlebur dalam “strategi sebuah sistem budaya kita yang sudah lama mengakar yakni kebudayaan Wawonii”,untuk tujuan filterisasi nilai-nilai budaya asing yang mereduksi tata nilai budaya dan tradisi yang kita bangun selama ini.  Mampukah kita menjadikan lembaga pendidikan sebagai sarana interaksi kultural untuk membentuk manusia yang sadar akan tradisi dan kebudayaan serta keberadaan masyarakatnya sekaligus juga mampu menerima dan menghargai keberadaan tradisi, budaya dan situasi masyarakat lain?

Menjadi perhatian semua pihak terutama pemerintah daerah Konkep untuk segera melakukan langkah-langkah strategis dalam rangka membangun dunia pendidikan agar lebih bergairah lagi dan agar elaborasi sistematik antara budaya dan pendidikan menjadi satu paduan yang serasi untuk membentuk watak bangsa yant di dalamnya ada manusia terdidik dan memiliki etika dan moral untuk membangun bangsa ini.
Share:

INSPIRASI INDONESIA



INSPIRASI INDONESIA
Oleh  :  Arief Gazali Sidek
  05-05-2016

Pulau-pulau yang menghampar hijau ditengah lautan biru
Diantara gugusan indah yang mengapung tanah air
Nnegeri dengan sejuta pesona yang menakjubkan
Penuh aroma, dengan tabir anugerah mengharumkan
Berkalang potensi tumbuh dibumi yang indah
Yang menunjukkan Indonesia

Angin menghempas dengan udara yang lagi mengembang
Diantara bias-bias kelembutan yang apik
 arus deras dengan fatamorgana yang terdiam
riak samudera yang yang mengacak-ngacak kedamaian 
riuh suara gemuruh ditengah nusantara
yang membangkitkan Indonesia

spirit warna pelangi yang membentang alam
oleh semangat yang berapi-api melukis peraduan
pada sang waktu, diantara rembulan seterang purnama
dibumi yang berkah sekeping anugerah
demi persada indah Indonesia

walau dipisah oleh tanah-tanah yang mengapung
laut biru yang telah menyatukan ragam budaya
dari adat istiadat, suku, bahasa, identitas serta peradaban
yang melilit sejarah pada negeri ini
menuju pada kesatuan Indonesia

lihat pada ujung dinegeri barat sampai di sabang
ketimur hingga ke unjung batas Merauke
Tanah air kita, Nusantara yang utuh dan bersatu
Pada latar belakang yang membeda
Diantara keragaman, dari simbol-simbol filosofis
Yang menandakan Indonesia

Dengan ide kreatifitas dan gagasan
Se engguk Nalar yang  memenuhi ruang kepala
Mengelus jiwa, melukis Imajinasi dan mengukir karya
Pada dinding-dinding kemegahan bangsa
Yang melahirkan  pengabdian, pada negeri kita tercinta
dalam sebuah wawasan dinamis
INSPIRASI INDONESIA
Share:

MITOLOGI WATUMPINODO



MITOLOGI
“WATUMPINODO“
 Obyek Potensi Wisata Arkeologi


         

Keanekaragaman budaya dan peradaban masyarakat masa lalu di Pulau Wawonii telah ditandai dengan banyaknya peristiwa kejadian dalam kehidupan masyarakat yang dituturkan melalui kisah maupun cerita rakyat setempat dalam bentuk Mitologi. Walaupun pada kisah-kisah yang dituturkan secara tradisi memiliki fakta-fakta empirik yang berupa situs, artefak dan prasasti dan memiliki TOPONIMI atau makna yang memiliki cerita terhadap kejadian sebuah tempat, namun tak dapat dikatakan sebagai sebuah sejarah karena fakta-fakta alam tersebut belum dapat dibuktikan melalui penelitian empirik ilmiah, sehingga kemudian dari kebanyakan situs arkeologi yang ditemukan masih perlu penelusuran akurat terkait data-data untuk menunjukkan bahwa tata kehidupan masyarakat dalam sebuah sistem budaya yang ada di pulau wawonii hendaknya menjadi obyek yang harus dan terus digali dan dikembangkan sebagai sebuah sejarah dalam kearifan lokal masyarakat .

Hal ini tentu menjadi wacana pemikiran untuk membuka wawasan pengetahuan tentang masa lalu sebagai obyek kajian sejarah, yang terus dilakukan tak terkecuali “ Mitologi WATUMPINODO “ sebagai kekayaan budaya masyarakat yang mencerminkan adanya peristiwa peradaban dari proses kehidupan masa lalu salah satu etnis atau komunitas “ TO ULU LAA “ di Pulau Wawonii tepatnya di Desa Puu Rau Kecamatan Wawonii Timur Laut Kabupaten Konawe Kepulauan.

WATUMPINODO “ adalah ungkapan kata yang mengandung ekspresi historis antropologis dalam kehidupan masyarakat masa lampau. Watu berarti Batu dan Pinodo artinya ditebang. Dalam persepsi makna historikal tentang hal ini mengandung pemaknaan bahwa ada bentuk peristiwa yang terjadi dalam wujud interaksi sosial antar manusia dan manusia dengan habitat alam atau lingkungan dimana manusia itu berada. Dan Watumpinodo sebagai obyek yang menjadi akibat dari peristiwa itu telah membuka pikiran dan nalar kita untuk melakukan observasi maupun penelitian terhadap makna filosofis yang dikandung sebagai sebuah bentuk kearifan lokal yang memiliki historis dan kesejarahan budaya. Artinya bahwa dari peristiwa tersebut akan timbul suatu pertanyaan “ Mengapa Batu yang dalam bentuk menara prasasti tersebut dapat ditebang dan rebah serta Mengapa batu tersebut pula yang menjadi “ akibat “ sebagai obyek penderita dari peristiwa kejadian tersebut dimasa lampau!


Semua tentu akan terurai secara gamblang sebagai jawaban yang menjelaskan makna-makna terkait yang dikandung atas mitos kejadian peristiwa dari Toponimi Watumpinodo sebagai sebuah mitologi sosial dalam sejarah peradaban etnis To Ulu Laa, sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam proses peradaban universal suku Wawonii atau To Wawonii.

Asal mula Mitos

Konon dalam sebuah cerita masa lalu tentang Mitologi sejarah WATUMPINODO menjelaskan bahwa Batu ditebang atau Batu Rebah (Watumpinodo) merupakan sebuah Menara Gading atau Tangga para Bidadari dari Kayangan untuk turun kebumi dengan maksud melakukan pencucian diri disebuah mata air suci yang disebut “ TUNUA atau MATANTUNUA “. 

TUNUA berasal dari kata dasar Tunu yang berarti Bakar, ditambah dengan akhiran ” a “ yang berarti tempat pembakaran. Sehingga Tunua dapat diartikan sebagai tempat peristiwa pembakaran atau mencucian diri agar terbebas dari segala bentuk dosa yang dilakukan manusia. 

Watumpinodo dan Tunua telah menyimpan sejarah tradisi yang unik, dimana terdapat kisah segerombol para bidadari atau peri dari kayangan berjumlah 7 orang, sedang mandi di sebuah mata air suci atau Matantunua. Saat itu ketika para bidadari sedang asyik mandi dan bermain air ditelaga lantas datang seorang laki-laki berasal dari bangsa manusia memergoki para bidadari. Para bidadari tersebutpun kaget dan lari tersimpuh hendak mencari pakaiannya yang ditaruh dipinggir telaga. Oleh karena para bidadari merasa malu untuk dilihat manusia, maka kemudian mereka segera lari menaiki tangga atau menara tersebut terbang kelangit, namun diantara mereka ada salah satu yang terlambat hingga laki-laki bangsa manusia menebang batu tersebut sampai tumbang atau rebah. Maka salah satu diantara bidadari tersebut telah menjadi penunggu mata air dan menempati Watumpinodo sebagai istananya. Atas peristiwa itu kemudian batu tersebut dinamakan dengan WATUMPINODO yang berarti “ BATU DITEBANG atau Batu Rebah.

Dari mitologi tersebut kemudian menjadi inspirasi masyarakat saat itu, untuk melakukan sebuah ritual hingga menjadi tradisi budaya yang setiap akhir bulan sapar dan sebelum memasuki bulan Ramadhan atau bulan puasa manusia melakukan mandi suci ala bidadari, supaya terbebas dari dosa –dosa yang dilakukannya. Maka kemudian dilakukan upacara tradisi pembebasan dosa yang lazimnya disebut “ Mandi Sapar atau Baho Nsaapara “. Upacara tersebut dilakukan di pusat mata air TUNUA dekat dengan WATUMPINODO.

Tunua juga dapat berarti area pembakaran tanah liat, karena dahulunya menjadi tempat atau areal pembuatan keramik dari tanah liat, yang pembuatannya melalui proses dibakar seperti proses pembuatan batu merah. Sehingga tempat itu kemudian dikenal orang dengan nama TUNUA atau tempat pembakaran. Oleh karena keyakinan masyarakat yang menganggap Tunua sebagai tempat sakral yang memiliki berkah, maka kemudian tempat itu dijadikan tempat upacara seserahan yang mumpuni untuk sebuah permohonan doa yang berhubungan dengan dewa-dewa langit melalui mata air suci dan tangga langit yang terpotong yakni Watumpinodo.

Mata air Tunua juga memiliki kaitan erat dengan TAMETANGKI atau karang panjang ditengah laut sebagai tempat dimana kapal selalu mengalami kecelakaan pada musim timur dengan gelombang laut yang sangat besar. Daerah aliran sungai Tunua bermuara di Mata Wambano dan Tametangki yang terkenal angker sebagai pangkalan armada angkatan laut para tentara jin yang mengawasi lautan. Sekalipun hanya sebagai mitos belaka, namun faktanya karang Tametangki telah banyak menelan korban baik kapal-kapal nelayan yang kecil maupun kapal yang berukuran besar dan salah satu diantaranya adalah kapal KM. SUGORO.

Dari peristiwa kejadian alam misterius tersebut pada daerah aliran sungai Tunua telah menunjukkan bahwa sesungguhnya pada kehidupan manusia di bumi selalu ada kaitan dengan peristiwa mistisisme kegaiban yang menunjukkan adanya kekuatan alam dari golongan makhluk hidup lain seperti bangsa Jin dan mendiami alam empirik dan memiliki pola-pola hidup dinamis sebagaimana manusia biasa, sehingga perlu ada penyadaran manusia untuk peduli terhadap lingkungan dan mau menjaga kelestariannya. Karena alam yang Tuhan cipta sesungguhnya merupakan habitat bagi para makhluk yang bukan hanya diperuntukkan manusia tetapi juga makhluk dari golongan yang lain termasuk para jin, hewan dan binatang melata.

Dari banyak hal kejadian yang terungkap sebagai misteri alam, telah menunjukkan pula bahwa sesungguhnya manusia harus memiliki kearifan alam, manusia harus memiliki peradaban untuk memelihara alam, menjaga dan melestarikannya sebagai wujud kecintaan pilihannya untuk mengamankan lingkungannya dari ancaman bencana yang kelak akan terjadi dan berakibat pada kehancuran manusia sendiri.

Aneh bin ajaib memang, ketika sebuah peristiwa kadang dapat terjadi secara misterius, misalnya peristiwa peracunan ikan di kali Tunua oleh komunitas bangsa Jin hingga manusia biasa pun datang dan ikut bersama mengambil ikan tersebut dan memanfaatkannya . Hal-hal demikian merupakan ilustrasi keadaban yang dijelmakan melalui dimensi transendental kegainan sebagai fatwa alam sesungguhnya. Manusia tidak lantas semena-mena sebagai pemilik mutlak keberadaan alam, sehingga dengan leluasa dapat menghardik alam sekehendak hatinya. Alam kemudian akan mengalami gradasi struktur yang tajam sehingga fungsi-fungsi lingkungan akan terganggu dan berubah secara drastis karena eksploitasi manusia yang ekstrim tanpa kendali. Dengan demikian maka manusia harus kembali menyatu kealam, manusia harus memiliki kearifan lokal, budaya dan peradaban. Sehingga tradisi-tradisi kealaman yang tumbuh ditenga-tengah masyarakat dahulunya harus terus digali dan dikembangkan sebagai kekayaan budaya termasuk menjaga dan memelihara hutan rakyat sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat.

Prospektifitas Potensi Wisata

Dari banyak ragam potensi wisata yang kini mulai digemari dan dikembangkan salah satu diantaranya adalah potensi wisata arkeologi, dimana terdapat situs sejarah arkeologi sebagai bukti peninggalan peradaban masa lalu. Dibanyak daerah bahkan dunia telah terkenal karena banyak menyimpan situs-situs peradaban yang diminati para touris terutama untuk kepentingan penelitian antropologi budaya. Sekalipun belum dilakukan sebuah penelitian tentang keabsahan Watumpinodo sebagai sebuah situs arkeologi, namun telah menunjukkan indikasi kuat sesuai pengamatan kasat mata tentang keunikan ciri-ciri bentuk dan mitologi tentang kesejarahan batu tersebut sebagai bukti peninggalan peradaban. Dan hal tersebut telah mampu menggetarkan daya nalar serta imajinasi meyakinkan bahwa sesungguhnya telah ada interaksi sosial kehidupan masa lampau yang dimulai dengan bentukan-bentukan komunitas peradaban kehidupan. Kondisi struktur bangunan dan arsitektur fisik yang menggambarkan nilai-nilai artistik dan kemegahan menjadi pemandangan unik dan menarik bagi para pencinta pemerhati wisata yang banyak menghabiskan waktu senggangnya hanya dengan mencari tempat-tempat yang bernilai seni dan indah. Sungguhpun dalam banyak hal masih perlu pengkajian serta penelitian yang cermat tentang kondisi fisik dari bangunan tersebut.

Watumpinodo adalah bangunan seni alami yang tercipta untuk melukiskan penggambaran materil tentang sebuah mitos kehidupan, karena terbukti memiliki inspirasi daya tarik yang membawa fikiran alam khayal pada sudut pandang kegaiban. Hal tersebut menjadi menarik untuk menciptakan suasana romantisme hidup dalam menyongsong perkembangan dunia tentang wisata yang bernilai seni dan sekaligus mencerminkan ketinggian kemasyhuran budaya serta kearifan lokal masyarakat dalam proses peradaban kehidupan masa lalu.

Desa PUU RAU Kecamatan Wawonii Timur Laut sebagai tempat dimana situs Watumpinodo berada ternyata menyimpan banyak potensi wisata yang tergolong unik dan menarik, karena selain Watumpinodo, Tunua dan Tametangki di Desa tersebut memiliki obyek wisata pantai yang tidak kalah menariknya bernama pantai KANDAPUTE, juga terdapat hutan mangrove yang terjaga kelestariannya dan Gua tengkorak BANGKA-BANGKA serta mata air jernih MATA LANDAKA. Dengan seabrek potensi yang dimiliki desa tersebut dapat di proyeksi sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Konawe Kepulauan.

Dalam pengembangan potensi daerah pada sektor wisata Desa Puu Rau melakukan upaya-upaya kerjasama pendampingan dari berbagai pihak, baik Pemerintah, swasta maupun berbagai steckholder yang lain. Khusus pada sektor budaya dan Pariwisata, Desa Puu Rau mendapat pendampingan dari salah satu Organisasi Kreasi yang bernama LEMBAGA SANGGAR KREASI IDE “ WAWONII BERSINAR ”. Organisasi ini sangat intens terhadap pengembangan potensi daerah dalam rangka merangsang minat, bakat dan ide-ide serta gagasan kreatif masyarakat menuju Wawonii yang bersinar dalam berbagai aspek kehidupan untuk kesejahteraan masyarakat Wawonii secara menyeluruh. Telah banyak karya yang dicatatkan oleh Lembaga ini, salah satu diantaranya adalah LOGO atau LAMBANG DAERAH KONAWE KEPULAUAN. 

Prospektifitas potensi wisata di desa Puu Rau memang sangat perlu diapresiasi, karena diantara potensi tersebut banyak memiliki ke khasan budaya yang unik, sehingga nanti desa ini akan mencerminkan sebuah desa yang representatif untuk pengembangan wisata terpadu selain obyek-obyek wisata lainnya yang tersebar diberbagai tempat dan desa yang ada di Kabupaten Konawe Kepulauan.


Puu Rau, 05-05-2016
Amiruddin


Share:

Recent Posts

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *